Dulu, Saat masih di bangku
sekolah, saya ingin cepat-cepat lulus agar bisa segera mendapatkan pekerjaan.
Sudah bekerja berarti sudah dewasa, memiliki penghasilan sendiri, bisa mengatur
hidup sendiri sesuai keinginan. Bekerja berarti sudah punya gaji, bisa jajan
sesuka hati tanpa ada yang mengatur, bisa berbelanja semua yang diinginkan
walaupun sebenarnya tidak dibutuhkan. Bekerja berarti terbebas dari tugas-tugas
sekolah yang menumpuk, terbebas dari rumus-rumus aljabar dan segala angka yang
membuat kepala pusing tujuh keliling.
Sekarang, setelah bekerja, saya
menolak untuk ingat bahwa bekerja adalah impian saya, cita-cita saya. Bekerja
tidak selalu menunjukkan bahwa saya kini telah dewasa, tidak berarti pula bahwa
saya bisa mengatur hidup saya sesuka hati saya. Dan bekerja ternyata tidak
membuat saya terbebas dari tumpukan-tumpukan tugas yang membubung tinggi.
Keinginan untuk bersenang-senang dan berbelanja tidak sebesar dulu, malah bisa
dibilang sekarang keinginan itu mulai sirna perlahan.
Dunia kerja jauh lebih panjang
waktunya dibanding saat saya sekolah dulu. Dunia kerja tidak mengenal libur
semester yang terkadang panjangnya sepanjang jalur kereta api, tidak mengenal
jam kosong sehingga bisa pulang lebih awal, tidak mengenal hari kejepit
sehingga jadwal kuliah bisa dialihkan di hari lain. Benar kata orang bahwa
kenyataan kadang tidak semanis seperti yang kita bayangkan. Dunia kerja itu manis,
asam, asin rasanya bagi saya. Banyak sekali hal-hal di luar dugaan yang saya
temui.
Ketika saya berfikir bekerja berarti
mempunyai penghasilan sendiri, dan dengan penghasilan sendiri berarti bisa
membeli semua barang yang diinginkan, ternyata saya lupa bahwa selama ini ada
orang tua yang selalu mengucurkan anggaran yang mungkin kalau dikalkulasi
selama satu bulan, nominalnya melebihi gaji yang saya dapatkan sekarang. Kini
setelah anggaran orang tua dihentikan, baru saya sadar bahwa gaji saya 1 bulan bahkan
tidak cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok saya, apalagi untuk menuruti
semua yang dulu saya tuntutkan kepada orang tua saya.
Ketika saya berfikir bisa
mengatur hidup saya sesuka hati setelah saya bekerja, ternyata tidak demikian juga.
Jam kerja jelas berbeda dengan jam sekolah. Waktu kerja saya dari jam 07.30
sampai dengan 16.00. Jauh lebih panjang dibandingkan ketika saya masih duduk di
bangku SMA yang waktu belajarnya hanya sampai dengan pukul 14.00. Berbeda pula
ketika saya bekerja dan harus selalu ada di tempat setiap saat, kuliah tidak
demikian. Tidak setiap saat ada jadwal dosen, dan bahkan kadang dalam satu hari
hanya ada satu jadwal dosen. Selebihnya, bisa untuk bermain bersama teman-teman
atau jalan ke mall.
Bukan pula berarti dengan bekerja
menjadikan saya lebih dewasa. Malah saya lebih cengeng dari sebelumnya dengan
lika-liku yang saya hadapi saat ini.
Malah terkadang saya berharap menjadi anak-anak lagi, yang bisa selalu
berada di pelukan ibu kapanpun ketika saya menghendakinya. Saya masih berharap
menjadi anak-anak kembali yang selalu dimanja, di sayang, di ajak jalan-jalan,
di perhatikan, bahkan saya rindu ketika ibu saya bilang “jangan ini/itu”. Saya
yang sudah bekerja, mungkin dianggap oleh orang tua saya sudah cukup dewasa
menentukan jalan hidup saya sendiri, sehingga terkadang saya “jaim”
alias jaga image bahkan di depan ibu saya sendiri. Saya yang berpura-pura
tegar dan dewasa dihadapannya sebenarnya ingin menangis dipelukannya. Selalu
ingin berkata “Ibu, aku rindu masa kecilku. Aku ingin selalu dipeluk dan
dimanja seperti dulu. Tolong jangan anggap aku sudah dewasa. Aku ingin jadi
anakmu yang selalu jadi anak kecil dimatamu. Anggaplah aku sebagai anak kecil,
bahkan sampai kapanpun, sepanjang hidupmu.”
Tidak cukup sampai disitu. Dunia
kerja yang dihadapi terlalu pelik dengan orang-orang di dalamnya, dengan
struktur organisasinya, dengan dunia dan ilmu barunya, bahkan dengan
pekerjaannya itu sendiri. Perbedaan yang cukup signifikan yang membuat saya
membutuhkan banyak waktu untuk memahami dan beradaptasi dengan semua ini.
Pola pemikiran yang terkadang
berbeda dengan rekan kerja ataupun pimpinan yang notabene tidak seusia kita,
atau bahkan usianya jauh di atas kita atau mungkin di bawah kita. Bukan berarti
saya lebih pintar, tapi saya yakin semua orang yang bekerja pasti merasakan hal
yang sama. Ternyata usia berpengaruh sekali dengan pola pikir, respon, dan
karakter. Tidak hanya dari background pendidikan yang memang jelas sangat
berbeda, lingkungan yang membentuk karakter seseorang karena memang jaman kami
mungkin berbeda. Beda jaman saya dengan mereka, beda cara bergaul, beda
lingkungan, dan tentunya berbeda dari segala hal apapun. Dan perbedaan itu
harus dilebur dan diselaraskan agar bisa berjalan beriringan. Bagi yang biasa
berjalan cepat harus di kurangi kecepatannya. Bagi yang biasa perlahan harus
ditambah kecepatannya walaupun kadang sering mengeluh.
Tidak jarang ada rekan kerja yang
ternyata menikam dari belakang hanya karena posisi atau jabatan. Sungguh dunia
hitam yang sesungguhnya adalah dunia kerja. Tidak munafik, pastilah setiap
orang ingin berada diposisi puncak, posisi yang menurut sebagian orang harus
dicapai dengan segala macam cara. Tapi kalian lupa bahwa sebagian dari kalian
ingin bekerja dengan tenang tanpa adanya salling sikut atau saling menjatuhkan,
yang bekerja secara profesional dan mendapatkan posisi jabatan memang karena kemampuannya,
bukan yang hanya sekedar cari muka di hadapan pimpinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar