Rabu, 21 Juni 2017

Lebih Enak yang Mana?



Dulu, Saat masih di bangku sekolah, saya ingin cepat-cepat lulus agar bisa segera mendapatkan pekerjaan. Sudah bekerja berarti sudah dewasa, memiliki penghasilan sendiri, bisa mengatur hidup sendiri sesuai keinginan. Bekerja berarti sudah punya gaji, bisa jajan sesuka hati tanpa ada yang mengatur, bisa berbelanja semua yang diinginkan walaupun sebenarnya tidak dibutuhkan. Bekerja berarti terbebas dari tugas-tugas sekolah yang menumpuk, terbebas dari rumus-rumus aljabar dan segala angka yang membuat kepala pusing tujuh keliling.
Sekarang, setelah bekerja, saya menolak untuk ingat bahwa bekerja adalah impian saya, cita-cita saya. Bekerja tidak selalu menunjukkan bahwa saya kini telah dewasa, tidak berarti pula bahwa saya bisa mengatur hidup saya sesuka hati saya. Dan bekerja ternyata tidak membuat saya terbebas dari tumpukan-tumpukan tugas yang membubung tinggi. Keinginan untuk bersenang-senang dan berbelanja tidak sebesar dulu, malah bisa dibilang sekarang keinginan itu mulai sirna perlahan.
Dunia kerja jauh lebih panjang waktunya dibanding saat saya sekolah dulu. Dunia kerja tidak mengenal libur semester yang terkadang panjangnya sepanjang jalur kereta api, tidak mengenal jam kosong sehingga bisa pulang lebih awal, tidak mengenal hari kejepit sehingga jadwal kuliah bisa dialihkan di hari lain. Benar kata orang bahwa kenyataan kadang tidak semanis seperti yang kita bayangkan. Dunia kerja itu manis, asam, asin rasanya bagi saya. Banyak sekali hal-hal di luar dugaan yang saya temui.
Ketika saya berfikir bekerja berarti mempunyai penghasilan sendiri, dan dengan penghasilan sendiri berarti bisa membeli semua barang yang diinginkan, ternyata saya lupa bahwa selama ini ada orang tua yang selalu mengucurkan anggaran yang mungkin kalau dikalkulasi selama satu bulan, nominalnya melebihi gaji yang saya dapatkan sekarang. Kini setelah anggaran orang tua dihentikan, baru saya sadar bahwa gaji saya 1 bulan bahkan tidak cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok saya, apalagi untuk menuruti semua yang dulu saya tuntutkan kepada orang tua saya.
Ketika saya berfikir bisa mengatur hidup saya sesuka hati setelah saya bekerja, ternyata tidak demikian juga. Jam kerja jelas berbeda dengan jam sekolah. Waktu kerja saya dari jam 07.30 sampai dengan 16.00. Jauh lebih panjang dibandingkan ketika saya masih duduk di bangku SMA yang waktu belajarnya hanya sampai dengan pukul 14.00. Berbeda pula ketika saya bekerja dan harus selalu ada di tempat setiap saat, kuliah tidak demikian. Tidak setiap saat ada jadwal dosen, dan bahkan kadang dalam satu hari hanya ada satu jadwal dosen. Selebihnya, bisa untuk bermain bersama teman-teman atau jalan ke mall.
Bukan pula berarti dengan bekerja menjadikan saya lebih dewasa. Malah saya lebih cengeng dari sebelumnya dengan lika-liku yang saya hadapi saat ini.  Malah terkadang saya berharap menjadi anak-anak lagi, yang bisa selalu berada di pelukan ibu kapanpun ketika saya menghendakinya. Saya masih berharap menjadi anak-anak kembali yang selalu dimanja, di sayang, di ajak jalan-jalan, di perhatikan, bahkan saya rindu ketika ibu saya bilang “jangan ini/itu”. Saya yang sudah bekerja, mungkin dianggap oleh orang tua saya sudah cukup dewasa menentukan jalan hidup saya sendiri, sehingga terkadang saya “jaim alias jaga image bahkan di depan ibu saya sendiri. Saya yang berpura-pura tegar dan dewasa dihadapannya sebenarnya ingin menangis dipelukannya. Selalu ingin berkata “Ibu, aku rindu masa kecilku. Aku ingin selalu dipeluk dan dimanja seperti dulu. Tolong jangan anggap aku sudah dewasa. Aku ingin jadi anakmu yang selalu jadi anak kecil dimatamu. Anggaplah aku sebagai anak kecil, bahkan sampai kapanpun, sepanjang hidupmu.”

Tidak cukup sampai disitu. Dunia kerja yang dihadapi terlalu pelik dengan orang-orang di dalamnya, dengan struktur organisasinya, dengan dunia dan ilmu barunya, bahkan dengan pekerjaannya itu sendiri. Perbedaan yang cukup signifikan yang membuat saya membutuhkan banyak waktu untuk memahami dan beradaptasi dengan semua ini.
Pola pemikiran yang terkadang berbeda dengan rekan kerja ataupun pimpinan yang notabene tidak seusia kita, atau bahkan usianya jauh di atas kita atau mungkin di bawah kita. Bukan berarti saya lebih pintar, tapi saya yakin semua orang yang bekerja pasti merasakan hal yang sama. Ternyata usia berpengaruh sekali dengan pola pikir, respon, dan karakter. Tidak hanya dari background pendidikan yang memang jelas sangat berbeda, lingkungan yang membentuk karakter seseorang karena memang jaman kami mungkin berbeda. Beda jaman saya dengan mereka, beda cara bergaul, beda lingkungan, dan tentunya berbeda dari segala hal apapun. Dan perbedaan itu harus dilebur dan diselaraskan agar bisa berjalan beriringan. Bagi yang biasa berjalan cepat harus di kurangi kecepatannya. Bagi yang biasa perlahan harus ditambah kecepatannya walaupun kadang sering mengeluh.
Tidak jarang ada rekan kerja yang ternyata menikam dari belakang hanya karena posisi atau jabatan. Sungguh dunia hitam yang sesungguhnya adalah dunia kerja. Tidak munafik, pastilah setiap orang ingin berada diposisi puncak, posisi yang menurut sebagian orang harus dicapai dengan segala macam cara. Tapi kalian lupa bahwa sebagian dari kalian ingin bekerja dengan tenang tanpa adanya salling sikut atau saling menjatuhkan, yang bekerja secara profesional dan mendapatkan posisi jabatan memang karena kemampuannya, bukan yang hanya sekedar cari muka di hadapan pimpinan.

Ketika Anak Ingin Berdagang

Apa yang ada dibenak orang tua ketika tiba-tiba anak yang berusia 6 tahun ingin berdagang? Mungkin banyak orang tua yang menganggap hal ini ...